Menanggapi pernyataan diatas yang dikatakan oleh seorang dosen yang notabenenya adalah dulunya seorang mahasiswa juga, penulis berpendapat bahwa apa yang beliau katakan seperti mahasiswa itu orang-orang yang menunjukkan atau mengutamakan intelektualitas daripada emosional dan juga tentang betapa pentingnya membaca adalah tepat dan penulis sangat sepakat dalam hal ini, karena menurut hemat penulis Jika kita melihat dalam acuan kita sebagai mahasiswa dalam Tri Darma mahasiswa, yaitu Belajar (Menambah intelektualitas), Meneliti, dan Mengabdi dalam masyarakat. Disitu jelas sekali terpapar bahwa seorang mahasiswa dituntut untuk selalu mengembangkan intelektualitasnya, karena dengan intelektualitas kita bisa berpikir cermat dan kritis dalam menanggapi segala situasi dan kondisi baik dalam lingkungan antar mahasiswa, masyarakat ataupun berbangsa dan bernegara. Dan tentunya-
intelektualitas dapat digunakan sebagai salah satu senjata yang ampuh atau ujung tombak yang tajam untuk digunakan dalam membangun bangsa dan Negara kita ini!!
Salah satu cara untuk menambah tingkat intelektualitas kita adalah dengan membaca buku sebanyak mungkin agar pengetahuan kita pun menjadi luas dan mengerti tentang banyak hal. Akan tetapi hal yang kemudian membuat penulis tidak sepakat adalah tentang intensitas untuk selalu datang ke perpustakaan sesering mungkin yang disarankan oleh dosen tadi, penulis menilai jika sebagai mahasiswa hanya terpaku pada satu permasalahan saja seperti sesering mungkin datang ke perpustakaan, nantinya malah akan timbul sikap individualistis kita yang tidak memperdulikan hal lain seperti berorganisasi, berserikat, berdiskusi dan membahas tentang situasi nasional atau masalah kerakyatan misalnya (sedikit banyak terpengaruh oleh sikap hegemoni dari pihak rektorat) atau mungkin yang lebih parah lagi sampai melupakan Tri Darma Mahasiswa khususnya mengabdi kepada masyarakat. Sikap tersebut nantinya akan berujung pada inginnya lulus cepat (nantinya menjadi manusia yang pragmatisme ataupun lulus dan akhirnya menambah angka pengangguran di
Mengenai cara berpakaian yang diutarakan oleh dosen tadi, penulis berpendapat bahwa berpakaian rapih dan sopan tentunya akan membuat kita yang memakainya sedikit dihormati oleh orang lain, akan tetapi jika kita melihat konteks kita sebagai mahasiswa khususnya bagi laki-laki, penulis sangat berkeyakinan bahwa kita ingin merasakan kebebasan setelah setidaknya 12 tahun mengeyam pendidikan sebagai siswa yang notabenenya harus tertib dan teratur. Jika kita berbicara mahasiswa, berarti kita berbicara tentang sebuah refleksivitas dari siswa yang artinya bahwa mahasiswa bukanlah siswa yang bisa seenaknya diatur tentang cara berpakian, berperilaku maupun tentang moral, karena tentunya kita sebagai mahasiswa bisa menilai dan berpikir sendiri tentang diri kita, karena tidak bisa dipungkiri manusia merupakan makhluk yang dialektis yang suatu saat akan berubah, baik dituntut oleh keadaan ataupun manusia itu sendiri yang menginginkan perubahan tersebut (dalam hal ini cara berpakaian). Pihak kampus, khususnya dosen maupun pihak rektorat tidak bisa meng-hegemoni kita dalam hal tersebut karena fungsi mereka lebih kepada fasilitator dibanding koordinator, tentunya mereka tidak punya kewenangan dalam hal tersebut.
Dari semua hal yang penulis utarakan diatas bermuara pada suatu keadaan di mana seorang mahasiswa itu di tuntut untuk menyumbangkan pemikiran-pemikirannya yang bersumber dari intelektualitas yang cermat, tanggap akan kondisi lingkungan dan kreatif tanpa terkekang oleh penindasan. Karena merupakan sebuah kewajiban bagi setiap mahasiswa untuk berperan dalam segala aspek yang berhubungan dengan kemahasiswaan,kemasyarakatan dan kenegaraan.
Semua itu berawal dari sebuah tuntutan dan tujuan untuk menjadi agen perubahan atau yang lazim disebut “agent of change”.Perubahan yang seperti apakah yang diinginkan dan diharapkan,tentulah perubahan yang bersifat progress,perubahan yang signifikan, dan bukan perubahan yang malah mengalami penurunan atau decadensi moral. Sehingga nantinya akan diharapkan munculnya suatu pemimpin bangsa yang baik dan berperan dalam membela tanah air, bangsa dan rakyat kecil kaum murba.
Maka dalam setiap jati diri kita seharusnya sudah mengalir darah pejuang seperti yang ditulis oleh Tan malaka tentang Sang Geriliya dalam GERPOLEK, bahwa seorang geriliya akan terus pantang menyerah, berjuang dengan semangat, keuletan serta kegigihannya untuk membela dan melawan penindasan dan ketidak adilan.
[Seorang kawan pernah berkata :”Menguji KATA-KATA dengan gemuruh SUARA, menguji CITA-CITA dengan tetesan KERINGAT, DARAH dan AIR MATA, maka tunjukkanlah KATA-KATA dan CITA-CITAmu sebagai mahasiswa..”]
Aditya Permana : Aktivis pergerakan KM UIN
