Revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi di eropa barat sejak abad ke-16 masehi menyebabkan pamor dan institusi gereja (agama kristen) di dunia menurun drastis. Hal ini terjadi karena dogma yang di pegang dan diajarkan tokoh-tokoh gereja pada abad tersebut jelas-jelas bertentangan dengan fakta-fakta yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Akibatnya terjadi proses sekulerisasi di Eropa dan dataran benua bagian lainnya dalam segala bidang, termasuk ilmu pengetahuan. Agama, tuhan, nilai-nilai dan norma secara drastis dikeluarkan dari struktur pemikiran para ilmuan. Oleh karena itu, lahirlah ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik.
Adalah Karl Marx yang hidup setelah dua revolusi besar pecah di daratan eropa, yaitu Revlusi Politik Kaum Borjuis di Perancis dan Revolusi Industi di Inggris. Revolusi politik di perancis mengantarkan kaum borjuis berkuasa di bidang politik dan ekonomi. Perkembangan politik kapitalis sangat cepat sekali diikuti perkembangan industri yang tak kalah cepatnya. Namun akibatnya terciptalah jurang pemisan yang begitu dalam antara kaum kapitalis yang kaya raya dengan rakyat jelata yang begitu kesulitan di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Di Inggris pun demikian juga. Setelah mesin-mesin modern ditemukan, kegiantan industri berubah total. Tenaga kerja manusia digeser olah hadirnya mesin-mesin tersebut. Akibatnya pengangguran meraja lelea, kemiskinan, kesengsaraan, dan penderitaan menimpa aum buruh. Dalam keadaan sosial seperti itu, marx bangkit dengan pemikiran kritisnya terhadap keadaan sosial yang semangkin tidak menentu. Rakyat jelata di hisap serta ditindas olah kaum kapitalis dan pemilik tanah. Marx mendapat pengaruh dari pemikir-pemikir sebelumnya, yakni dari kaum Sosialis Utopia, Hegel, dan Feuerbach.
Menurut pandangan Marx, manusia adalah mahluk sosial yang hanya bisa hidup dan bekerja dalam tatanan masyarakat yang ia jumpai waktu ia lahir hingga dibesarkan. Untuk dapat hidup, manusia harus bekerja merubah alam dan membangun lembaga sosial. Pekerjaan manusia merubah alam untuk memenuhi kebutuhannya menunjukkan ia adalah mahluk yang berbeda dengan binatang. Ia adalah mahluk yang bebas dan universal. Bebas, karena ia berfikir sebelum memberi reaksi terhadap suatu objek. Dan universal, karea ia tidak ditaklukkan alam melainkan menaklukkan alam untuk menciptakan alat pemuas kebutuhannya. Manusia dalam pekerjaannya, merupakan bentuk apresiasi terhadap pemenuhan kebutuhan individu dan sosial. Sehingga, pekerjaan tersebut menjadi tolak ukur terhadap keberhasilannya membangun jembatan emas di kehidupan sosialnya sendiri. Marx menambahkan, bahwa hasil kerja manusia tersebut nantinya akan diwariskan dari satu generasi ke genenari lainnya hingga terciptalah sejarah hasil pekerjaan manusia. Seharusnya manusia puas dan senang dengan pekerjaannya, karena ia dapat merealisasikan dirinya dan dapat bekerja sama dengan kehidupan sosialnya. Akan tetapi pada zaman kapitalisme manusia justru mersakan keterasingan dalam pekerjaannya yang diakibatkan olah uang, paksaan, dan kepentingan manusia lainnya.
Uang sebagai tanda keterasingan manusia, dikarenakan uang sebagai perantara manusia dengan kebutuhannya. Manusia yang bekerja tidak membutuhkan hasil kerjanya berupa barang, tetapi butuh nilai tukarnya, yaitu uang. Kerja untuk memenuhi kebutuhan sosial menjadi tidak penting lagi, karena yang diingikan adalah uangnya. Dengan demikian karena manusia dipengaruhi oleh uang, ia tidak saling menghargai terhadap sesamanya tetapi saling mempergunakannya. Maka manusia hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya.
Paksaan, sebagai tanda keterasingan manusia, dikarenakan manusia dipaksa untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan individunnya dan kebutuhan sosialnya. Ia juga dipaksa bekerja atas perintah orang lain, yang menjadi ciri kahas sistem ekonomi kapitalis. Sedangkan kepentingan manusia lainnya, menjadi faktor penyebab keterasingan manusia dalam pekerjaan, dikarenakan dalam sistem ekonomi yang dikembangkan kapitalis menyebabkan terciptanya klas kapitalis dan klas buruh. Dimana klas kapitalis memiliki kepentingan untuk memperoleh laba yang sebanyak-banyaknya, berbada kepentingan dengan kaum buruh yang menginginkan upah yang layak.Untuk mengatsi pertentangan kelas ini, Marx mencarikan jalan keluar berupa Revolusi, yakni revolusi klas buruh terhadap klas kapitalis. Sehingga klas-klas dalam masyarakat tersebut dapat dilenyapkan. Masyarakat tanpa klas itulah yang oleh Karl Marx disebut masyarakat komunis, yaitu suatu sisterm masyarakat dimana setiap orang bekerja menurut kemampuannya dan setiap orang memperoleh kebutuhan hidup sesuai kebutuhannya.
Hingga saat meninggalnya marx pada tahun 1883, berbagai pemikirannya yang tetuang di dalam karya-karya fenomenalnya terus dikembangkan oleh para penganut ajaran Sosialis yang dikembangkan oleh Marx. Salah satu penganut paham sosialis yang tanpa ragu-ragu menghilangkan lima juta nyawa dalam tiga tahun serta membunuh ratusan ribu petani pasca Revolusi Oktober 1917 adalah Vladimir Ilyik Lenin sehingga tanpa pemikiran tajam disertai keberaniannya Uni Soviet tidak akan pernah terwujud. Namun, pada tahun 1991 jagad bumi kita tercengang menyaksikan sebuah peristiwa yang seharusnya disertai goncangan-goncangan raksasa, namun berlangsung hampir tanpa hembusan angin sama sekali: peristiwa meninggal dunianya Uni Soviet.
Kegagalan sistem Ekonomi Sosialis dengan runtuhnya Uni Soviet, yang oleh Francis Fukuyama disebut-sebut sebagai kemajuan sistem Ekonomi Kapitalis yang diadopsi negara adikuasa. Amerika dengan segala hegemoninya berupaya menyebarkan hegemoni ekonomi ke negara-negara berkembang melalui IMF dan World Bank. Namun siapa sangka, menjelang akhir kekuasaan George .W Bush amerika mengalami goncangan ekonomi yang maha dasyat yang kemudian berimbas ke berbagai sektor.
Ekonomi Islam, yang sejatinya hadir jauh sebelum masa feodalisme yang menjadi cikal bakal sistem ekonomi kapitalisme, memberikan kita pandangan yang berbeda dengan paham marxis mengenai fenomena ekonomi yang terjadi di masa lalu ataupun di masa yang akan datang. Ekonomi Islam, memberikan batsan syariah yang jelas mengenai perilaku individu dalam unit ekonomi. Ekonomi islam, memasukkan faktor moral atau norma yang terngkum dalam batasn syariah kedalam variabel untuk menjadi untuk menjadi alat analisis. Ekonomi islam menganggap bahwa basic ekonomi (variabel-variabel ekonomi) hanya memenuhi necessary condition, sedangkan moral dan tatanan syarian memenuhi unsur sufficient condition dalam pembhasan ekonominya. Ekonomi islam juga membahas value judgement (apa yang seharusnya ekonomi islam lakukan). Ekonomi Islam tidak terjebak untuk memperdebatkan antara normatif dan positif, karena ekonomi islam beranggapan perbedaan konsep ekonomi islam berbeda dengan ekonomi lainnya terletak pada filosofi ekonomi, bukan pada ilmu ekonominya.
Dalam filosofi ekonomo Islam, tujuan dari berekonomi ialah memberikan kita solusi hidup yang paling baik, dengan konsep batasan nilai syariahnya. Sedangkan ilmu ekonomi hanya mengantarkan kita untuk memahami bagaimana kegiatan ekonomi itu berjalan. Dengan demikian, ekonomi Islam tidak hanya sekedar Ilmu, melainkan lebih daripada itu, yaitu ekonomi Islam adalah sebueah sistem. Proses integrasi antara ekonomi filosofi ke dalam ilmu ekonomi murni disebabkan karena adanya pandangan bahwa kehidupan di dunia tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan di akhirat, semuanya harus seimbang karena dunia adalah ladang akhirat. Akankah ekonomi islam yang dibangun atas, atau paling tidak diwarnai oleh prinsip-prinsip religius yang tidak melihat ilmu sebagai sesuatu yang sekuler mampu memberikan paradigma ekonomi baru ?.
Merujuk pada suatu paradigma, ekonomi Marxis dan ekonomi islam mempunyai keselarasan dalam penetapan nilai kesejahteraan rakyat (marxis) dan kemaslahatan ummat (islam). Namun jika kita mencoba bertolak pada paradigma yang berbeda, ekonomi Marxis begitu terjebak pada otoritaisme proletariat, sedangkan islam terjebak pada wacana usang masa kejayaan perdaban islam, yang menunjukkan ketidak selarasan dalam kedua sistim ekonomi tersebut. Sementara sistim ekonomi kapitalis pada perkembangannya tidak mempu menjawab kebutuhan dan tantangan modernitas. Krisis demi krisis selalu menjadi bayang-bayang bagi perekonomian modern. Resesi global ( jika bukan sebagai puncak dari krisis ekonomi kapitalis ) telah mengagetkan kita, betapa bobrok dan menindasnya sistem ekonomi kapitalis.
Dengan demikian, melihat kembali kepada ekonomi marxis dan teori ekonomi islami, akankah keduanya hanya sebuah sebuah gagasaan ekonomi “imajiner” yang hanya dapat dijangkau pada ranah gagasan tetapi tidak dapat termaterialkan demi membebaskan manusia dari kriteria dasar sistem ekonomi kerajaan ? mungkinkah, keduanya mampu memberikan paradigma ekonomi yang lebih manusiawi dalam konteks keilmiahan ? dan apakah indonesia mampu mengkontekstualisasikan teori-teori tersebut dan mengambil “api semangat” sehingga muncullah teori ekonomi yang khas indonesia ?.
